BELAJAR DAN STRATEGI PEMBELAJARAN

SERTA KONTRIBUSINYA DALAM

PEMBELAJARAN

 




 

      Makalah

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Makalah pada Mata Kuliah

Media dan Sumber Belajar Jurusan Pendidikan Agama Islam

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan

Dosen Pengampu: Dr. Rosdiana, M.Pd.I

Oleh: Kelompok 2

MUHAMMAD SYAHRUL

NIM : 20100120076

 

RUKAYA DAMAYANTI

NIM : 20100120077

 

MUSTARI

NIM : 20100120078

 

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2021

KATA PENGANTAR

بِسۡمِ ٱللَهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillahi, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt. Dia-lah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Selawat seiring salam semoga selalu tercurah kepada nabi akhir zaman yang merupakan suri teladan bagi kita semua, yakni Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang setia dan istikamah berada di atas ajarannya hingga hari kiamat.

Makalah yang berjudul: “Belajar dan Strategi Pembelajaran Serta Kontribusinya Dalam Pendidikan” ini merupakan perwujudan tugas kelompok dari mata kuliah Media dan Sumber Belajar dalam melakukan sebuah diskusi. Makalah ini disusun untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada kita semua tentang hal-hal yang berkaitan dengan strategi pembelajaran.

Namun, makalah ini jauh dari kata sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah swt. Maka dari itu, penulis selalu terbuka terhadap saran dan kritikan yang membangun dari semua kalangan terhadap kekurangan dalam makalah ini.

Akhirul al-kalam, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang membantu penyusunan makalah ini, termasuk dosen pengampu mata kuliah Media dan Sumber Belajar karena telah memberikan arahannya, sehingga makalah ini dapat disusun dengan baik. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan menjadi motivasi bagi penulisnya.

Makassar, 14 September 2021

 

 

Penulis



 

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

            Belajar merupakan suatu proses dari tidak tau menjadi tau, oleh karena itu di dalam proses belajar diperlukan kedekatan yang baik antara pengajar dan peserta didik Proses belajar mengajar merupakan proses yang terpenting karena dari sinilah terjadi interaksi langsung antara pendidik dan peserta didik. Di sini pula campur tangan langsung antara pendidik dan peserta didik berlangsung sehingga dapat dipastikan bahwa hasil pendidikan sangat tergantung dari perilaku pendidik dan perilaku peserta didik. Dengan demikian dapat diyakini bahwa perubahan hanya akan terjadi jika terjadi perubahan perilaku pendidik dan peserta didik. Dengan demikian posisi pengajar dan peserta didik memiliki posisi strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

          Pelaksanaan proses belajar mengajar, merupakan kejadian atau peristiwa interaksi antara pendidik dan peserta didik yang diharapkan menghasilkan perubahan pada peserta didik, dari belum mampu menjadi mampu, dari belum terdidik menjadi terdidik, dari belum kompeten menjadi kompeten. Inti dari proses belajar mengajar adalah efektivitasnya. Maka di dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai apa itu belajar dan strategi pembelajaran serta kontribusinya dalam pembelajaran.

            Dalam proses belajar pula ada yang dinamakan strategi pembelajaran yang di mana memiliki kontribusi yang sangat besar dalam proses pembelajaran, sehingga tujuan dari diadakannya pembelajaran bisa tercapai secara maksimal serta para siswa atau peserta didik lebih mudah memahami materi yang dijelaskan. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas lebih mendalam mengenai belajar dan strategi pembelajaran serta kontribusinya dalam pembelajaran.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka diajukan rumusan masalah, antara lain :

1.      Apa itu belajar dan pembelajaran?

2.      Apa saja ciri-ciri belajar dan pembelajaran?

3.      Bagaimana bentuk strategi pembelajaran yang dapat dilakukan dalam proses pembelajaran?

C.     Tujuan

Bersumber pada rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini, yaitu:

1.      Untuk mengetahui apa itu belajar dan pembelajaran.

2.      Untuk mengetahui apa saja ciri-ciri belajar dan pembelajaran.

3.      Untuk mengetahui bentuk strategi pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.     Belajar dan Pembelajaran

a.      Belajar

            Secara harfiah, Belajar adalah yang tidak tahu menjadi tahu. Secara keilmuan, belajar merupakan perilaku kognitif yang memerlukan tingkat keterbukaan kondisi tertentu yang akan menghasilkan perubahan perilaku atau disposisi untuk bertindak (ditindak lanjuti). Menurut kamus bahasa Indonesia, belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar adalah suatu proses yang berlangsung di dalam diri seseorang yang mengubah tingkah lakunya, baik tingkah laku dalam berpikir, bersikap, dan berbuat (W. Gulo, 2002: 23).

            Menurut Nana Sudjana (2002), pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah proses komunikasi. Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan suatu dunia komunikasi tersendiri dimana guru dan siswa bertukar pikiran untuk mengembangkan ide dan pengertian. belajar ada kaitannya dengan usaha atau rekayasa pembelajar. Dari segi siswa, belajar yang dialaminya sesuai dengan pertumbuhan jasmani dan perkembangan mental, akan menghasilkan hasil belajar sebagai hasil belajar sebagai perwujudan emansipasi siswa menuju kemandirian. Dari segi guru, kegiatan belajar siswa merupakan akibat dari tindakan pendidikan atau pembelajaran. Proses belajar siswa tersebut menghasilkan perilaku yang dikehendaki, suatu hasil belajar sebagai dampak pengajaran.

            Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku. Pada dasarnya belajar merupakan tahapan perubahan prilaku siswa yang relatif positif dan mantap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif (Syah, 2003), dengan kata lain belajar merupakan kegiatan berproses yang terdiri dari beberapa tahap. 10 Tahapan dalam belajar tergantung pada fase-fase belajar, dan salah satu tahapannya adalah yang dikemukakan oleh witting yaitu :

1.      Tahap acquisition, yaitu tahapan perolehan informasi

2.      Tahap storage, yaitu tahapan penyimpanan informasi

3.      Tahap retrieval, yaitu tahapan pendekatan kembali informasi

 

            Definisi yang lain menyebutkan bahwa belajar adalah sebuah proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh sebuah perubahan tingkah laku yang menetap, baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan (Roziqin, 2007: 62). Dari berbagai definisi para ahli di atas, dapat disimpulkan adanya beberapa ciri belajar, yaitu:

1.      Belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku (change behavior).

2.      Perubahan perilaku relative permanent. Ini berarti, bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah-ubah.

3.      Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat potensial

4.      Perubahan tingkah laku merupakan hasillatihan atau pengalaman

5.      Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan.

 

            Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas, kata kunci dari
belajar adalah perubahan perilaku. Dalam hal ini, Benyamin S. Bloom
(1956) mengemukakan perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil
belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif
dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya.

1.      Cognitive Domain (Kawasan Kognitif). Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek intelektual atau secara logis yang bias diukur dengan pikiran atau nalar. Kawasan ini tediri dari:

-          Pengetahuan (Knowledge).

-          Pemahaman (Comprehension).

-          Penerapan (Aplication).

-          Penguraian (Analysis).

-          Memadukan (Synthesis).

-          Penilaian (Evaluation).

2.      Affective Domain (Kawasan afektif). Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Kawasan ini terdiri dari:

-          Penerimaan (receiving/attending).

-          Sambutan (responding)

-          Penilaian (valuing).

-          Pengorganisasian (organization).

-          Karakterisasi (characterization)

3.      Psychomotor Domain (Kawasan psikomotorik). Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Kawasan ini terdiri dari:

-          Kesiapan (set)

-          Meniru (imitation)

-          Membiasakan (habitual)

-          Adaptasi (adaption)[1]

b.      Pembelajaran

            Kata pembelajaran mengandung arti “proses membuat orang melakukan proses belajar sesuai dengan rancangan” (Udin S Winataputra, 1994:2). Lebih jauh ia mengatakan bahwa pembelajaran adalah “merupakan sarana memungkinkan terjadinya proses belajar” dalam arti perubahan perilaku individu melalui proses mengalami sesuatu yang diciptakan dalam rancangan proses pembelajaran” (Udin S Winataputra, 1994:4). Pembelajaran pada dasasrnya adalah suatu proses yang dilakukan oleh guru dan siswa sehingga terjadi proses belajar dalam arti adanya perubahan perilaku individu siswa itu sendiri. Perubahan tersebut bersifat “internasional, positif-aktif, dan efektif fungsional” (H. Ahmad Sabri, 2005:34).[2]           

            Secara umum istilah belajar dimaknai sebagai suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Dengan pengertian demikian, maka pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik (Darsono, 2000: 24). Adapun yang dimaksud dengan proses pembelajaran adalah sarana dan cara bagaimana suatu generasi belajar, atau dengan kata lain bagaimana sarana belajar itu secara efektif digunakan. Hal
ini tentu berbeda dengan proses belajar yang diartikan sebagai cara 12
bagaimana para pembelajar itu memiliki dan mengakses isi pelajaran itu sendiri (Tilaar, 2002: 128).

            Sedangkan menurut Duffy dan Roehler (1989). Pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan profesional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum. Gagne dan Briggs (1979:3). mengartikan instruction atau pembelajaran ini adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Sedanghkan dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

            Berangkat dari pengertian tersebut, maka dapat dipahami bahwa pembelajaran membutuhkan hubungan dialogis yang sungguhsungguh antara guru dan peserta didik, dimana penekanannya adalah pada proses pembelajaran oleh peserta didik (student of learning), dan bukan pengajaran oleh guru (teacher of teaching) (Suryosubroto, 1997: 34). Konsep seperti ini membawa konsekuensi kepada fokus pembelajaran yang lebih ditekankan pada keaktifan peserta didik sehingga proses yang terjadi dapat menjelaskan sejauh mana tujuantujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik.

            Keaktifan peserta didik ini tidak hanya dituntut secara fisik saja, tetapi juga dari segi kejiwaan. Apabila hanya fisik peserta didik saja yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya dengan peserta didik tidak belajar, karena peserta didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya (Fathurrohman & Sutikno, 2007: 9).

            Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dan tugas guru adalah mengkoordinasikan 13 lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai usaha sadar pendidik untuk membantu peserta didik agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Disini pendidik berperan sebagai fasilitator yang menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang mendukung peningkatan kemampuan belajar peserta didik.[3]

 

B.     Ciri-ciri Belajar dan Pembelajaran

a.      Ciri-ciri Belajar

            Djamarah (2011: 15-17) menyatakan, jika hakekat belajar adalah peru bahan tingkah laku, maka ada beberapa perubahan tertentu yang dimasukkan ke dalam ciri-ciri belajar.

a). Perubahan yang Terjadi Secara Sadar Ini berarti individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan ini atau sekurang-kurangnya individu merasakan
telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya. Misalnya ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah, kecakapannya bertambah, kebiasaannya bertambah. Jadi, perubahan tingkah laku individu yang terjadi karena mabuk atau dalam keadaan tidak sadar, tidak termasuk kategori perubahan dalam pengertian
belajar. Karena individu yang bersangkutan tidak menyadari akan perubahan itu.

 

b). Perubahan dalam Belajar Bersifat Fungsional Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya. Misalnya, jika seorang anak belajar menulis, maka ia akan mengalami perubahan dari tidak bisa menulis menjadi dapat menulis. Perubahan itu berlangsung terus menerus hingga kecakapan menulisnya menjadi lebih baik dan sempurna. Ia dapat menulis dengan kapur, dan sebagainya. Disamping itu, dengan kecakapan menulis yang telah dimilikinya ia dapat memperoleh kecakapan-kecakapan lain. Misalnya, dapat
menulis surat, menyalin catatan-catatan, mengerjakan soal-soal, dan sebagainya.

 

c). Perubahan dalam Belajar Bersifat Positif dan Aktif Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu selalu bertambah dan tertuju untuk memperoleh suatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian, makin banyak usaha belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu sendiri. Misalnya, perubahan tingkah laku karena proses kematangan yang terjadi dengan sendirinya karena dorongan dari dalam, tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar.

 

d). Perubahan dalam Belajar Bukan Bersifat Sementara Perubahan yang bersifat sementara (Temporer) yang terjadi hanya untuk beberapa saat saja, seperti keringat, keluar air mata, menangis, dan sebagainya tidak dapat digolongkan sebagai perubahan dalam pengertian belajar. Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen. Ini berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap. Misalnya kecakapan seorang anak dalam memainkan piano setelah belajar, tidak akan hilang, melainkan akan terus dimiliki dan bahkan makin berkembang bila terus dipergunakan atau dilatih.

 

e) Perubahan dalam Belajar Bertujuan dan Terarah 17 Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai. Perubahan terarah pada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. Misalnya seseorang yang belajar mengetik, sebelumnya sudah menetapkan apa yang
mungkin dapat dicapai dengan belajar mengetik, atau tingkat kecakapan mana yang dicapainya. Dengan demikian, perbuatan belajar yang dilakukan senantiasa terarah pada tingkah laku yang telah ditetapkannya.

 

f). Perubahan Mencakup Seluruh Aspek Tingkah Laku

Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan, keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya. Misalnya, jika seseorang anak telah belajar naik sepeda, maka perubahan yang paling tampak adalah dalam keterampilan naik sepeda itu. Akan tetapi, ia telah mengalami perubahanperubahan lainnya seperti pemahaman tentang cara kerja sepeda, pengetahuan tentang jenis-jenis sepeda, pengetahuan tentang alat-alat sepeda, cita cita untuk memiliki sepeda yang lebih bagus, kebiasaan membersihkan sepeda, dan sebagainya. Jadi, aspek perubahan yang satu berhubungan erat dengan aspek
lainnya.[4]

b.      Ciri-ciri Pembelajaran

1.      Memiliki tujuan yaitu untuk membentuk peserta didik dalam suatu perkembangan tertentu.

2.      Terdapat mekanisme, prosedur, langkah-langkah, metode dan teknik yang direncanakan dan didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

3.      Fokus materi ajar, terarah dan terencana dengan baik.

4.      Adanya aktivitas peserta didik merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya kegiatan pembelajaran.

5.      Aktor pendidik yang cermat dan tepat.

6.      Terdapat pola aturan yang ditaati pendidik dan peserta didik dalam proporsi masing-masing.

7.      Limit waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran.

8.      Evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil.[5]

 

C.     Strategi Pembelajran

a.      Strategi Pembelajaran Holistik

            Proses pelaksanaan pendekatan holistik dalam pendidikan akan mengajak anak berbagi pengalaman kehidupan nyata, mengalami peristiwa-peristiwa langsung yang diperoleh dari pengetahuan kehidupan. Dengan demikian pendidik diharapkan dapat menyalakan/menghidupkan kecintaan anak akan pembelajaran. Pendidik juga mendorong anak untuk melakukan refleksi, diskusi daripada mengingat secara pasif tentang fakta-fakta. Hal ini jauh lebih bermanfaat dibanding keterampilan pemecahan masalah yang bersifat abstrak. Kata “holistik‟ (holistic) berasal dari kata “holisme‟ (holism). Kata “holisme” pertama kali digunakan oleh J.C. Smuts pada tahun 1926 dalam tulisannya yang berjudul Holism and Evolution, bahwa asal kata “holisme” diambil dari bahasa Yunani, holos, yang berarti semua atau keseluruhan. Smuts mendefinisikan holisme sebagai sebuah kecenderungan alam untuk membentuk sesuatu yang utuh sehingga sesuatu tersebut lebih besar daripada sekedar gabungan-gabungan bagian hasil evolusi (Nobira: 2012).

            Pembelajaran holistik adalah turunan dari konsep pembelajaran holistik (holistic learning) yang merupakan suatu filsafat pendidikan yang berangkat dari pemikiran bahwa pada dasarnya seorang individu dapat menemukan identitas, makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spiritual.

            Paradigma pembelajaran holistik menurut Anhar (2015:27) menekankan proses pendidikan dengan ciri-ciri sebagai berikut:

a.       Tujuan pembelajaran holisti kadalah terbentuknya manusia seutuhnya dan masyarakat seutuhnya.

b.      Materi pembelajaran holistik mengandung kesatuan pendidikan jasmani-ruhani, mengasah kecerdasan intelektualspritual-emosional, kesatuan materi pendidikan teoretis-praktis, kesatuan materi pendidikan pribadi-sosialketuhanan.

c.       Proses pendidikan holistik mengutamakan kesatuan kepentingan anak didik dan masyarakat.

d.      Evaluasi pendidikan holistik mementingkan tercapainya perkembangan anak didik dalam bidang penguasaan ilmu, sikap, dan keterampilan.

            Model pembelajaran holistik sangat menekankan pendekatan pendidikan yang sangat manusiawi dan utuh. Model ini tidak sepihak atau tidak sepotong-sepotong. Pembelajaran tidak didasarkan pada aspek otak saja, atau fisik saja, atau dari rohani saja, karena segala aspek fisik maupun kejiwaan saling berkaitan dan melengkapi.

            Oleh karena itu strategi pembelajaran lebih diarahkan pada bagaimana mengajar dan bagaimana orang belajar. Sedangkan Miller (1991:3) mengungkapkan karakteristik pembelajaran holistik adalah sebagai berikut:

a.       Pendidikan holistik memelihara perkembangan peserta didik yang terfokus pada intelektual, emosional, sosial, fisik, kreativitas atau intuitif, estetika dan spiritual emosi.

b.      Menciptakan hubungan yang terbuka dan kolaboratif antara pendidik dan peserta didik.

c.       Mendorong keinginan untuk memperoleh makna dan pemahaman agar dapat menjadi bagian dari dunia dengan melakukan penekanan pada belajar melalui pengalaman hidup dan belajar di luar batas-batas kelas dan lingkungan pendidikan formal sehingga dapat memperluas wawasan.

d.      Pendekatan ini memberdayakan peserta didik untuk berpikir secara kritis dalam konteks kehidupan mereka.

 

            Pendidikan holistik memiliki kapasitas untuk membimbing peserta didik untuk memperluas kepribadian individu serta memiliki kapasitas menciptakan individu untuk berpikir secara berbeda, kreatif dan mencerminkan nilai-nilai yang sudah tertanam dalam dirinya. Guru diharapkan mampu mendorong peserta didik untuk berkembang menjadi lebih terdidik dan berpartisipasi sebagai anggota masyarakat.

            Keberhasilan proses pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar tetapi juga dilihat dari prosesnya. Proses pembelajaran merupakan upaya mengoptimalisasikan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik untuk mengembangkan diri secara menyeluruh. Jadi, hasil belajar bergantung pada proses belajar siswa dan mengajar guru.

            Oleh karenanya guru perlu mengubah strategi pembelajaran dengan menggunakan metode dan pendekatan yang bervariasi dan lebih bersifat eksploratif, menggeser pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) menjadi student centered (berpusat pada siswa) serta mendorong siswa menjadi kreatif. Pembelajaran holistik (holistic learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman informasi dan mengaitkannya dengan topik-topik lain sehinggga terbangun kerangka pengetahuan. Dalam pembelajaran holistik, diterapkan prinsip bahwa siswa akan belajar lebih efektif jika semua aspek pribadinya (pikiran tubuh dan jiwa) dilibatkan dalam pengamalan siswa. Pembelajaran holistik sejalan dengan tujuan pendidikan untuk menghasilkan insan Indonesia yang cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinestetis. Oleh karena itu, rencana pembelajaran dirancang agar peserta didik dapat meraih prestasi setinggi-tingginya.[6]

b.      Strategi Pembelajaran Kontekstual

            Salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan dengan produktif dan bermakna bagi siswa adalah strategi pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang selanjutnya disebut CTL. Strategi CTL fokus pada siswa sebagai pembelajar yang aktif, dan memberikan rentang yang luas tentang peluang-peluang belajar bagi mereka yang menggunakan kemampuan-kemampuan akademik mereka untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan nyata yang kompleks.

            Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara materi yang mereka pelajari dengan pemanfaatannya dalam kehidupan nyata. Pemahaman konsep akademik yang dimiliki siswa hanyalah merupakan sesuatu yang abstrak, belum menyentuh kebutuhan praktis kehidupan siswa. Pembelajaran secara konvensional yang diterima siswa hanyalah penonjolan tingkat hafalan dari sekian macam topik, tetapi belum diikuti dengan pengertian dan pemahaman yang mendalam yang bisa diterapkan ketika mereka berhadapan dengan situasi baru dalam kehidupannya.

1.      Pembelajaran Kontekstual

            Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran dengan konteks dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar. Sehingga siswa mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan komponen utama pembelajaran yakni: konstruktivisme (constructivism), menyelidiki (inquiry), pemodelan (modeling), dan penilaian autentik (authentic assessment). Makna dari kontruktivisme adalah siswa mengkonstruksi/membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal melalui proses interaksi sosial dan asimilasi-akomodasi. Implikasinya adalah pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan.

            Sedangkan inti dari inquiry atau menyelidiki adalah proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman. Oleh karena itu dalam kegiatan ini siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis. Bertanya dalam pembelajaran kontekstual dilakukan baik oleh guru maupun siswa. Guru bertanya dimaksudkan untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Sedangkan untuk siswa bertanya meupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry. Penilaian autentik dimaksudkan untuk mengukur dan membuat keputusan tentang pengetahuan dan keterampilan siswa yang autentik (senyatanya). Agar dapat menilai senyatanya, penilaian autentik dilakukan dengan berbagai cara misalnya penilaian penilaian produk, penilaian kinerja (performance), portofolio, tugas yang relevan dan kontekstual, penilaian diri, penilaian sejawat dan sebagainya.

2.      Penerapan Pembelajaran Kontekstual

            Pembelajaran dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jika materi pembelajaran tidak hanya tekstual melainkan dikaitkan dengan penerapannya dalam kehidupan seharihari siswa di lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar, dan dunia kerja, dengan melibatkan ketujuh komponen utama sebagaimana yang disebutkan di atas sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Model pembelajaran apa saja sepanjang memenuhi persyaratan tersebut dapat dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual. Pembelajaran kontekstual dapat diterapakan dalam kelas besar maupun kelas kecil, namun akan lebih mudah organisasinya jika diterapkan dalam kelas kecil.[7]

c.       Strategi Pembelajaran Ekspositori (SPE)

            Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Strategi pembelajaran ekspositori merupakan salah satu dari macam-macam pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru. Hal ini dikarenakan guru memegang peranan yang sangat penting atau dominan dalam strategi ini.Dalam sistem ini guru menyajikan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematik dan lengkap sehingga anak didik tinggal menyimak dan mencernanya saja secara tertib dan teratur.

d.      Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)

            Strategi Pembelajaran Inquiry (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawabannya dari suatu masalah yang ditanyakan.  Proses berpikir ini biasa dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa.Strategi pembelajaran inkuiri merupakan bentuk dari pendekatan yang berorientasi pada siswa. SPI merupakan strategi yang menekankan kepada pembangunan intelektual anak. Perkembangan mental (intelektual) itu menurut Piaget dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu maturation, physical experience, social experience dan equilibration.

e.       Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM)

            Pembelajaran berbasis masalah dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Dilihat dari aspek psikologi belajar SPBM bersandarkan kepada psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Pada dasarnya, belajar bukan hanya merupakan proses menghafal sejumlah ilmu dan fakta, tetapi suatu proses interaksi secara sadar antara individu dengan lingkungannya.

            Melalui proses ini sedikit demi sedikit siswa akan berkembang secara utuh. Hal ini berarti perkembangan siswa tidak hanya terjadi pada aspek kognitif, tetapi juga aspek efektif dan psikomotor melalui penghayatan secara internal akan masalah yang akan dihadapi. Dilihat dari aspek filosofis tentang fungsi sekolah sebagai arena atau wadah untuk mempersiapkan anak didik agar dapat hidup di mayarakat, maka SPBM merupakan strategi yang memungkinkan dan sangat penting untuk dikembangkan.

            Hal ini disebabkan pada kenyataan setiap manusia agar selalu dihadapkan kepada masalah baik masalah yang sederhana sampai masalah yang kompleks. Proses pembelajaran SPBM ini diharapkan dapat memberikan latihan dan kemampuan setiap individu untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Dilihat dari konteks perbaikan kualitas pendidikan, maka SPBM merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran.

f.       Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB)

            Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan berpikir siswa. Dalam pembelajaran ini materi pelajaran tidak disajikan begitu saja kepada siswa, akan tetapi siswa dibimbing untuk proses menemukan sendiri konsep yang harus dikuasai melalui proses dialogis yang terus menerus dengan memanfaatkan pengalaman siswa.

            Model strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir adalah model pembelajaran yang bertumpu kepada pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui telaahan fakta-fakta atau pengalaman anak sebagai bahan untuk memecahkan masalah yang diajarkan.

g.      Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK)

            Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

           Strategi pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda (heterogen). Sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok. Setiap kelompok akan memperoleh penghargaan (reward), jika kelompok tersebut menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan.

h.      Strategi Pembelajaran Afektif (SPA)

            Strategi pembelajaran afektif memang berbeda dengan strategi pembelajaran kognitif dan keterampilan. Afektif berhubungan dengan nilai (value) yang sulit diukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam diri siswa. Dalam batas tertentu, afeksi dapat muncul dalam kejadian behavioral. Akan tetapi, penilaiannya untuk sampai pada kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan membutuhkan ketelitian dan observasi yang terus menerus, dan hal ini tidaklah mudah untuk dilakukan.[8]

BAB III

PENUTUP

A.     Kesimpulan

            Belajar adalah suatu proses dari tidak tau menjadi tau, atau dapat juga dikatakan sebagai suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku. Sedangkan pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik.

Adapaun macam-macam strategi pembelajaran yang memiliki kontribusi dalam suatu pembelajaran, diantaranya strategi pembelajaran holistik, strategi pembelajaran kontekstual, strategi pembelajaran ekspositori, strategi pembelajaran inkuiri, strategi pembelajaran berbasis masalah, strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir, strategi pembelajaran kooperatif, strategi pembelajaran afektif. Itulah beberapa strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran yang dapat menunjang proses belajar siswa sehingga apa yang menjadi tujuan dalam pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.

 

B.     Saran

            Penulis menyarankan bagi para pembaca untuk membaca dengan seksama dan memahami strategi pembelajaran serta kontribusinya dalam pembelajaran. Penulis juga berharap para agar para pembaca kelak bisa mengaplikasikan apa yang dibahas selaku calon pendidik dan sekaligus memberikan saran dan kritik yang membangun terhadap makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Akhiruddin dk.  Belajar  dan Pembelajaran. Gowa: CV.Cahaya Bintang Cemerlang, 2019.

Aswan.H. Strategi Pembelajaran Berbasis PAIKEM . Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2016.

Hilir, Alwi. PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN: Peranan Pendidik dalam Menggunakan Media Pembelajaran. Klaten: Lakeisha, 2021.

HarusPintar.com,” Macam-Macam Strategi Pembelajaran dan Penjelasannya”, Situs Resmi HarusPintar.com, https://www.haruspintar.com/macam-macam-strategi-pembelajaran/ (16 September 2021)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Akhiruddin dkk, Belajar  dan Pembelajaran (Gowa:CV.Cahaya Bintang Cemerlang, 2019), h. 9-11.

 

[2] H.Aswan, Strategi Pembelajaran Berbasis PAIKEM (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2016) h. 9.

[3] Akhiruddin dkk, Belajar  dan Pembelajaran (Gowa:CV.Cahaya Bintang Cemerlang, 2019), h. 11-13.

[4] Akhiruddin dkk, Belajar  dan Pembelajaran (Gowa:CV.Cahaya Bintang Cemerlang, 2019), h. 15-17.

 

[5] Akhiruddin dkk, Belajar  dan Pembelajaran (Gowa:CV.Cahaya Bintang Cemerlang, 2019), h. 17-18.

 

[6] Alwi Hilir, PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN: Peranan Pendidik dalam Menggunakan Media Pembelajaran (Klaten: Lakeisha, 2021), h. 23-29.

[7] Alwi Hilir, PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN: Peranan Pendidik dalam Menggunakan Media Pembelajaran (Klaten: Lakeisha, 2021), h. 30-31.

[8] HarusPintar.com,” Macam-Macam Strategi Pembelajaran dan Penjelasannya”, Situs Resmi HarusPintar.com, https://www.haruspintar.com/macam-macam-strategi-pembelajaran/ (16 September 2021)

 

Komentar